Selasa, 07 Februari 2012

MEMAHAMI ARTI SABAR DAN SYUKUR

 sabar & syukur 

        Dalam hidup ini yang sulit adalah BERSYUKUR & BERSABAR ketika kita berada dlm keadaan kesusahan,musibah dan kemiskinan.Bila kita kaya,tampan/cantik dan punya jabatan(kemuliaan) tentu dgn mudah kita bersyukur.Jika kita kaya tentu dgn mudah kita bersyukur dgn cara memberikan/menyumbangkan sebagian harta yang kita miliki untuk orang yg sedang membutuhkan.klo kita tampan/cantik tentu dgn mudah kita bersyukur dgn cara memberikan senyuman kita untuk menghibur orang yg sedang bersedih.demikian jga bila kita punya jabatan/pangkat tentu kita dgn mudah mengangkat derajat seseorang dg pangkat/jabatan yg kita miliki.bila kita kaya tentu dg mudah kita bersabar.jika kita punya uang 10M kemudian kita kehilangan uang 10juta tentu bukan apa2 buat kita sehingga kita masih bisa bersabar.bila kita Tampan/cantik tentu dgn mudah kita bersabar ketika ada orang menghina wajah kita krn semua orang telah tahu bahwa kita sebenarnya tampan/cantik.tetapi lain halnya bila kita Miskin.jelek dan terhina(tdk punya jabatan/kekuasaan) tentu hal yang sangat teramat sulit buat kita brsyukur.apa yang harus kita syukuri dari sebuah kemiskinan.apa yg mesti kita syukuri dari kejelekan dan kehinaan.bila kita miskin ibaratnya kita kerja hari ini dan hasilnya cukup buat makan/hidup hari ini kemudian kita kehilangan uang hasil jerih payah kita hari ini apakah kita masih bisa bersabar?jika wajah kita jelek terus kita dihina orang apakah kita masih bisa bersabar?tetapi ALLAH berfirman"sesungguhnya AKU(ALLAH)bersama sama dengan HambaKu yg Sabar.(QS.Albaqoroh:153)" bagi ALLAH jika orang Kaya,tampan/cantik dan punya jabatan kemudian bersyukur dan bersabar adalah hal yang biasa krn dengan mudah melakukannya.tetapi bila orang miskin.jelek dan terhina kemudian masih bisa bersyukur dan bersabar itu hal yang LUAR BIASA dan ALLAH membalasnya dengan menjadikan orang tsb menjadi HambaNYA sesuai dgn Firman ALLAH"sesungguhnya aku bersama HambaKU yg sabar"QS.Albaqoroh:153. 

 

 

MENJAGA SILATURAHMI HARUS SETIAP SAAT

oleh "KATA-KATA HIKMAH" pada 16 September 2010 pukul 20:56 ·


Sahabat Hikmah...

Di bulan Syawal ini, setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan, kita beramai-ramai menyambung tali silaturahmmi
Tapi sesungguhnya JALINAN SILATURAHMI tidak harus dibangun setahun sekali.
Bahkan sesama muslim tidak boleh bermusuhan lebih dari 3 hari.

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Raslullah SAW bersabda, "Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling bermusuhan, jangan saling hasud. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan saudaranya di atas tiga hari. (HR Muttafaq 'alaihi)

Riwayat yang lainnya tentang tema yang sama adalah hadits berikut ini:

Dari Abi Ayyub ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim memboikot (tidak bertegur) dengan saudaranya di atas tiga hari, mereka bertemu, sebaik-baik mereka adalah yang memulai dengan salam (HR Muttafaq 'alaihi)

Jadi janganlah kita menunggu bulan Syawal untuk menyambung TALI SILATURAHMI

Tali kekerabatan harus selalu rapat dan erat.
Beragam gejala yang berpotensi merenggangkannya mesti diantisipasi dengan cepat,
supaya keharmonisan hubungan tetap terjaga, kuat lagi hangat.
Semua anggota kerabat akan menikmati rahmat dariNya lantaran menjunjung tinggi tali silaturahmi
yang sangat ditekankan oleh syariat.

Sebaliknya, ketidakpedulian terhadap hubungan kekerabatan akan dapat menimbulkan dampak negatif.
Alasannya, tali silaturahmi lambat laun akan mengalami perenggangan.
Pemutusan tali silaturahmi berdampak mengikis solidaritas, mengundang laknat, menghambat curahan rahmat
dan menumbuhkan suburnya egoisme.

Sering terdengar di masyarakat pelbagai kasus putusnya tali silaturrahim dengan berbagai bentuknya.
Terhadap pemutusan silaturrahim ini, Islam sangat tegas ancamannya. Allah berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan Allah tulikan telinga mereka dan Allah butakan penglihatan mereka". [Muhammad:22-23].

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi". [HR Bukhari 5984 dan Muslim 2556].

Mengucapkan SALAM untuk menjaga TALI SILATURAHMI
Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda: “Demi zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, kalian tidak akan masuk syurga sebelum beriman, dan kalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah aku tunjukan sesuatu, jika kalian mengerjakannya, maka akan timbul saling mencintai di antara kalian. Yaitu sebarkanlah SALAM’ (HR. Muslim)

Dan mencintai KARENA ALLAH adalah perekat TALI SILATURAHMI

Dari Muadz ra, ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Siapa saja yang saling mencintai karena KeagunganKu, maka mereka akan mendapatkan beberapa mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid” (HR. Tirmidzi)

Hadis riwayat
Ibnu Umar Radhiallahu’anhu, Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda yang artinya: "Seorang muslim itu adalah saudara
muslim
lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa
yang
membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya.
Barang
siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan
melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat
nanti.
Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan
menutupi
aibnya pada hari kiamat." (Shahih HR.Muslim No.4677)
 

TAAT PADA SUAMI ATAU IBU ??

Di zaman Rasulullah dulu, ada seorang sahabat yang ingin berperang, dan berpesan kepada istrinya untuk tak meninggalkan rumah selama dia tak ada. Istri sahabat ini berjanji patuh. Namun, nasib memang susah diduga. Berselang hari, datang seorang utusan dari keluarganya, dan mengabarkan tentang ibunya yang sakit keras, dan mengharap kedatangan si istri. Si istri ini, dengan meminta maaf, berkata tak dapat hadir. Suaminya tak ada di rumah, dan dia telah berjanji untuk patuh pada pesan suami, tak akan meninggalkan rumah. Si utusan paham.

Sehari kemudian, utusan itu datang lagi, mengabarkan si ibu sakitnya kian menjadi. Si istri tetap kukuh, dan tak ingin ingkar janji. Keesokan lagi, si utusan datang, dengan wajah yang pucat. Dia mengabarkan, si ibu telah berpulang, dan sampai akhir hidupnya, dia tak melihat wajah anaknya. Si istri menangis, tapi dia tak berani menghadiri pemakaman itu. Dia harus patuh pada suaminya.

Lama setelah peristiwa itu, bertanyalah sahabat kepada Rasulullah atas peristiwa itu. Mereka sebagian "mencela" kepatutan sang istri pada suami. Tapi apa kata Rasulullah? "Karena kepatuhan istrinya itulah, ibunya kini telah berada di syurga." Sungguh kisah yang luar biasa.

Jadi ibu, patuh pada suami memang wajib hukumnya. Namun, kepatuhan itu bersyarat. Syarat itu tentu tidak bertentangan dengan agama kita. Kedua, kepatuhan itu juga wajib untuk suami yang seagama dengan kita. Dan ketiga, kepatuhan itu wajib sepanjang suami berada di jalan yang benar.

Menyangkut cerita ibu, memang agak dilematis. Suami keras, ibu juga. Patuh pada suami wajib, pada ibu apalagi. Namun, jika tidak bisa didamaikan, jd ibu dapat membandingkan tingkat kesalehan ibu dan suami. Jika suami selama ini memang mampu menjadi imam dalam keluarga, dan "kekerasan" dia pada mertua adalah sikap yang wajar dan bukan merupakan kedurhakaan, ibu dapat mematuhinya. Namun jika suami ibu belum mampu menjadi imam di dalam keluarga, tidak mencukupi kewajibannya sebagai suami dan ayah bagi anak ibu, perintahnya tentu dapat ibu nilai sesuai dengan nurani atau hanya merupakan luapan emosi atau dendam karena dulu tak mendapat restu.

Ibu juga dapat melakukan hal yang sama pada ibu Anda. Nilailah ketaatannya kepada Allah. Nilailah apakah "perselisihan" mereka hanya urusan-urusan kecil atau menyangkut masalah prinsip. Ibu dapat melihat mana yang lebih dapat ibu ajak bicara, suami atau ibu Anda. Mana yang dapat ibu jadikan teladan. Dan ibu harus jujur, jangan karena dia melahirkan Anda, maka Anda berpihak padanya, atau karena dia ayah anak-anak ibu pun membelanya. Kejujuran penilaian ibu akan membuat sikap ibu punya nilai di mata Allah.

Selebihnya marilah berdoa pada Allah. Ajak suami berdoa agar Allah membuka pintu hari ibu Anda dan menerima dapat kehadirannya. Ajak ibu Anda berdoa agar percaya bahwa suami Anda dapat membuatnya bangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar